Hujan Sore Di Bulan Ramadan
Nur Aisah
Sore itu langit kelabu,awan pekat menyelimuti, mendung menggantung pertanda hujan segera turun. Si Denis yang terbiasa ngaji sore husus di bulan Ramadan, dengan cepat segera mendapat bimbingan.Maklum jarak rumah yang lumayan jauh memisahkan jalan raya, mengkhawatirkan dirinya terjebak hujan. Sedangkan ibunya setia menunggu di atas sepeda motor.
Ada rasa haru mendalam. Betapa sang ibu rela Wira Wiri , meluangkan waktu di tengah aktivitas memasak menyiapkan buka bersama. Semua itu demi sang buah hati pelipur lara mendapatkan bimbingan membaca alqur'an. Sebuah investasi akhirat yang menjanjikan surga.
Kebetulan si anak ini tergolong anak yang agak susah menerima pelajaran.Jadi, sengaja saya tekankan agar setiap hari mengaji ,jangan sampai ada yang bolong supaya pembelajaran yang kemaren tidak lupa . Rupa2nya gayung bersambut. Nasehat saya langsung diterima. Mulai dari Ramadan hari pertama sampai saat ini, tidak ada yang absen.Kecuali saat malam Jumat dan itupun karena hujan turun mulai waktu ashar.
Bimbingan Al-Qur'an kepada Denis sengaja dipersingkat. Hujan rintik satu demi satu sudah tidak tahan untuk turun. sebentar kemudian hujan deras mengguyur daerah kami. Kunikmati suasana itu sambil menyiapkan menu berbuka. Penghangatan alami di depan kompor sambil menggoreng ikan dirasakan sangat efektif. Lumayan sambil menyelam minum air pikirku . He....
Hujan terus berlanjut sampai bunyi adzan terdengar sayup2. Doa berbuka dilantunkan secara serempak.Kunikmati buka bersama keluarga tercinta. Teh hangat , nasi putih dan lauk pauk ala masakan cheef sendiri begitu nikmat dirasakan. Alhamdulillah puji syukur padaNya. Salat Maghrib sudah kami tegakan berjamaah bersama keluarga. Namun hujan belum ada tanda2 untuk berhenti.
Saatnya adzan isya' berkumandang. Hujan sudah agak reda. Tapi pasti orang2 akan merasakan malas melangkahkan kakinya untuk salat tarawih, pikirku. Karenanya agak malas juga menggelar tikar untuk salat para tetangga, walaupun akhirnya saya siapkan juga. Kebetulan tetangga kiri kanan salat tarawih di rumahku. Ternyata benar. Mereka yang datang melaksanakan salat tarawih bisa di hitung dengan jari. Hanya mereka yang benar2 terpanggil dan merasa sayang melewatkan salat tarawih walaupun hanya satu malam.
Hal ini juga berimbas saat tadarus. tiga orang setia bersama Al-Qur'an.Hujan turun, cuaca dingin tidak menyurutkan semangat melantunkan Kalam ilahi. Lembar demi lembar dibaca dengan lancar. Ditemani teh hangat dan bakwan touge menambah hangatnya suasana.

Alhamdulillah masih ada yg istiqomah y bu
BalasHapusAlhamdulillah.mksih Bun komennya
BalasHapusTerima kasih infonya bu
BalasHapus