Mengisi kajian Pordon
Nur Aisah
Malam hari sebelum jadwal mengisi kajian, panitia pondok Ramadan menghubungi saya lewat pesan singkat " Assalamualaikum Bu Aisyah.Jangan lupa ya besok jadwal ngisi kajian di pondok Ramadan.'Pesan singkat itu menghentakan saya untuk melihat jadwal plus materi yang sudah pernah di share beberapa hari lalu.
Sontak saya buka kitab atau referensi yang berhubungan dengan materi yang akan saya sampaikan. yah kajian kitab ta'limul mutaallim tepatnya.
Senang sekali rasanya bisa terlibat dalam pemateri pordon ini.Karena saya bisa mengeksplor kemampuan sekaligus dapat menyampaikan pesan secara leluasa kepada murid mengenai hal2 yang berbau etika atau adab.
Hari ini giliran putri yang harus mengikuti kegiatan pondok Ramadan ini. Sementara siswa putra istirahat dulu di rumahnya.Mereka datang memadati area madrasah dengan balutan gamis putih dan kerudung senada. Sebuah penampilan cantik, anggun nan mempesona terpancar dari wajah polosnya.Aura Ramadan melekat dalam gerak geriknya. Ah sejuk sekali mata memandangnya. Hati juga merasa dingin dan teduh merasakannya.
Seperti biasa salat duha dan tartil Al-Qur'an menjadi pembuka. Lantunan suara merdu Bu Hj.Anisah selaku pengajar tahsin begitu syahdu. Anak2 juga serempak menirukannya.Ku lihat anak OSIS mendekati saya dan memberikan info tentang giliran saya. Sebelum melangkah materi,sengaja saya awali dengan mengajak anak2 melantunkan syair solawat yang cukup familier dari Maher Zain "Rahmatan Lil Al-Amin." Tidak sulit bagi anak2 untuk menirukannya.
Suara gemuruh langsung memadati ruang aula. Senyum yang tersungging dari bibirnya menandakan betapa lagu ini memancarkan harapan akan syafaat Rosululloh kelak . Sayapun ikut larut akan dalamnya pesan yang terkandung di dalamnya. Tiga kali diulang lagu tersebut rasanya tidak bosan. Lumayanlah untuk mengumpulkan konsentrasi anak2.
"Menuntut ilmu itu takwa.
Menyampaikan ilmu itu ibadah.
Mengulang ilmu itu dzikir.
Belajar ilmu itu adalah jihad."
( Imam Abu Hamid Alghozali
Kalimat tersebut sebagai perangsang bagi siapapun yang berkutat dengan ilmu baik sebagai pencari ilmu yakni murid maupun sebagai penyampai ilmu seperti guru atau muballigh. Semuanya mendapat kebaikan di sisi Allah SWT. Bayangkan seseorang yang berangkat menuntut ilmu dihitung sebagai jihad . Sebuah label terhormat yang tiada tara dan tiada bandingannya. Zaman Rosululloh jihad identik dengan perang melawan kafir Quraisy. Sebuah aksi nyata pengorbanan jiwa dan raga. Yang balasanya adalah surga.
Allah sengaja meninggikan urusan ilmu ini , karena Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu diantara kalian semua. Ini merupakan janji Allah yang terdapat dalam Al-Qur'an. Dan ternyata dalam realita kehidupan, hal itu sangat benar adanya. Imam dan ilmu disandingkan berjejer maka seseorang akan menjadi insan terbaik yang tidak mendewa2 kan akal .Artinya tidak menggunakan akalnya kepada urusan yang tidak benar.
Bahkan ketika ada dua perkumpulan sahabat Nabi Muhammad yang satu urusan dzikir, sementara yang lain urusan penguatan ilmu, maka Rosululloh lebih memilih urusan ilmu ini.Kenapa demikian? Karena dengan penguasaan ilmu yang memadai, maka seseorang akan dapat mengkaji tanda2 kebesaran Allah yang bermuara kepada peningkatan iman.Disamping itu amal ibadah orang yang berilmu akan lebih berarti . Dan amal ibadah seseorang yang dilakukan tanpa ilmu kemungkinan besar di tolak oleh Allah SWT. Dan fatwa seseorang dengan tanpa ilmu yang benar akan sesat dan menyesatkan.
Apa tujuan seseorang mencari ilmu? Demikian pertanyaan pemantik yang saya lontarkan kepada para siswi. Mereka memberikan jawaban yang berbeda ada yang mengatakan supaya pinter, supaya pengalaman,supaya jadi orang hebat dan berbagai jawaban lainnya. Jawaban2 tersebut semua mengarah kepada unsur keduniaan. Saya hargai. Tidak salah juga, tapi yang utama Yang menjadi landasan seseorang dalam mencari ilmu seharusnya memperhatikan hal berikut:
1. Mencari ridho Allah
2. Menghilangkan kebodohan
3. Membantu agama Allah
4. Bersyukur atas nikmat akal.
Empat point tersebut yang harus diperhatikan bagi setiap pelajar dalam menuntut ilmu. Jika hal itu menjadi titik point penting, maka urusan keduniaan juga akan gampang mengikutinya.
Pemberian materi dengan cara atraktif komunikatif terbukti sangat efektif. Suasana menjadi hidup, anak2 tidak jenuh dan persoalan langsung dapat diselesaikan.
Selanjutnya bekal bagi seorang pelajar dalam menuntut ilmu ada enam.Yakni
1. Kecerdasan
2. Semangat yang tinggi
3. Sabar
4. Bekal yang cukup
5. Petunjuk dari guru
6. Butuh waktu yang lama.
Pembahasan tentang materi ini sangat mengasyikan.Terlihat anak2 juga sangat antusias mengikuti dengan seksama.Belum tuntas slide power point saya sampaikan semua, tanpa terasa ada anak2 OSIS memberikan kode jika waktunya sudah habis.Dengan cepat saya sampaikan point itu sampai habis dan saya akhiri dengan salam.

Komentar
Posting Komentar