Melepas Kerinduan Dengan Buah Hati
Senang, bahagia, perasaan ini campur aduk saat menumpahkan rasa kangen yang selama ini dipendam.Kedatangan anakku dengan dijemput suami, membawa suasana rumah agak berbeda. Anakku yang ke tiga pulang dari pondok pesantren karena liburan. Penjemputan santri wajib dilakukan oleh orang tua atau wali. Itupun wajib mabit atau bermalam di sana.Karena pengambilan surat izin dan rapot santri dilakukan saat itu. Ba'da salat subuh ada acara rapat wali santri . Isinya membahas segala sesuatu yang berkenaan dengan santri, pembangunan pondok dan rencana2 lain tentang perkembangan pondok. Semua wali murid mengikuti sampai usai. Setelah itu diperkenankan membawa putranya pulang ke rumahnya. Lima belas hari Ia melaksanakan puasa Ramadan di pondok. Sempat kepikiran juga saat pengurus pondok memberikan info tentang ini. Teringat saat berbuka dan sahur. Biasalah kepikiran wajar seorang ibu yang bersifat manusiawi. Sifat kekanak2an yang selama ini ada padanya belum sirna. Betapa peluk cium selalu ia lakukan kepada kami sambil bergelayut di pundak untuk melampiaskan kerinduannya. Selama ini hanya dilakukan sesekali saat nyambangi ke pondoknya. Itupun hanya sebatas cipika cipiki .Saya sangat bersyukur sekali pada Allah. Karena walaupun secara kemandirian belum begitu ia pegang, Allah mentakdirkan ia betah di pondok. Mengikuti tahapan2 kegiatan yang ada di sana.Berbagai kegiatan yang ada ia ikuti dengan sempurna.Mulai dari mengikuti salat berjamaah, kajian kitab, sekolah formal maupun bimbingan baca Al-Qur'an. Padatnya kegiatan pondok tidak menjadikan ia ngambek pingin pulang.
Kedatangan anakku ke rumah sudah ditunggu teman sepermainannya. Berkali2 temannya menanyakan anakku yang bernama Habi. Apalagi mereka terbiasa ngaji bareng dan salat tarawih di rumah. Ketika tahu anakku sudah datang, mereka sangat bahagia dan menyambutnya dengan suka cita. Begitupun dengan anakku. Kebahagiaan bersama teman2nya sangat ia rasakan. Rupa2nya selama ini mereka saling memendam rindu. Akhirnya mereka tarawih bersama. Setelah salat tarawih selesai, mereka langsung membentuk lingkaran. Satu demi satu mereka bergantian membaca. Tiba giliran anakku, sengaja saya pasang telinga untuk menyimak bacaannya secara seksama. Lantunan bacaan Al-Qur'an yang diperdengarkan oleh anakku membuat hati ini bangga. Ia sudah trampil, bisa mengaji dengan tartil, tepat sesuai kaidah yang benar. Alhamdulillah ya Allah. Puji syukur padaNya.Tidak sia2 saya korbankan semuanya demi masa depan anakku.
Setelah salat lima waktu pun Ia langsung merogoh Alqur'an. Saya dan suami saling berpandangan tersenyum sebagai ungkapan bahagia. Tanpa saya komando Ia melanjutkan kebiasaan baik saat di pondok. Nilai2 inilah yang sebenarnya sangat mahal dan sangat saya syukuri. Paling tidak, sudah terlihat hasil tempaan selama di pondok. Walaupun pastinya tidak semaksimal saat berada di pondok. Semoga terus Istiqomah dan selalu berada di jalan Allah SWT.
Saat berbuka tiba, Ia serbu makanan di rumah dengan lahap. Moment ini sebenarnya yang saya tunggu. Walaupun anakku yang nomor dua belum datang dari pesantren yang lain. kebetulan keduanya nyantri di tempat berbeda.Yang membuat hati tergelitik adalah keluar masuk dapur mencari makanan. Tidak henti2 nya mulutnya berayun. Makanan satu selesai ganti lagi dengan yang lain. Seakan balas dendam. Saya hanya tersenyum aja melihatnya. Semoga sehat2 selalu semuanya.
Komentar
Posting Komentar