Pemandangan Berbeda
Disaat semua orang banyak mengharap dan merindukan bulan Ramadan،berlomba² meraih ampunan Allah, memanfaatkan obralan pahala berlimpah, sebagian yang lain menganggap bulan ini tidak bedanya dengan sebelas bulan yang lain. Santai, tanpa target amalan, tanpa peningkatan amalan, tanpa berusaha memperbaiki kesalahan. Apalagi untuk bertaubat. Hem....sepertinya tidak ada kamus itu dalam benaknya.
Pagi itu seperti biasa saya berangkat melaksanakan tugas mengajar boncengan dengan anakku. Sepeda motor matic melaju dengan santai.Karena jalan perumahan tidak memungkinkan untuk mengendarai kendaraan dengan cepat.Di tengah perjalanan tiba² mata saya tertuju pada pemandangan berbeda yang tidak biasa dan tidak sepantasnya terlihat orang banyak.
Pemandangan apa itu ? Segerombolan tukang bangunan rumah dengan tanpa bersalah dan tanpa malu jam 07.00 sarapan pagi di luar ruangan bangunan , tepi jalan tempat lalu lalang jalan kaki atau kendaraan. Memang sih, tidak ada hubungan antara amalan seseorang dengan orang lain. Semua itu kembali pada diri sendiri. Mungkin mereka berprinsip "amalku ya amalku, dosaku ya aku yang naggung. Tidak ada urusan dengan orang lain."
Hem...Tapi kan urusannya bukan sampai di sini. " Ini kan mataku, kenapa melihat dirimu yang makan di luar." Sudahlah batinku. Saya langsung palingkan wajah tapi terus tidak habis pikir " di mana muru'ahnya / harga diri sebagai seorang muslim? mana bentuk toleransi terhadap orang yang berpuasa atau penghormatan terhadap bulan yang mulia ini ?
Ah andai saja mereka makan di dalam bangunan rumah tanpa memperlihatkan ke khalayak, cara ini lebih elegan dan tidak arogan.Pemandangan seperti ini ternyata saya jumpai lagi beberapa hari sesudahnya. Saat pergi ke pasar dan kebetulan saya membeli beberapa ikat kerupuk.Ketika saya menuju parkir, eh tiba2 ada seorang laki² menghampiri dan mau membeli kerupuk yang saya pegang. Tanpa pikir panjang saya kasihkan begitu saja kerupuk itu secara gratis.
Ternyata langsung dimakan oleh isterinya di pinggir jalan raya di depan jualannya. Kebetulan si ibu ini penjual daging dadakan. Orang yang lalu lalang tentu saja memandang dengan agak risih. Duh....kataku.Apapun alasannya kenapa tidak ditahan dulu , makan saja nanti saat di rumahnya .
Menanggapi dua cerita tersebut mari kita kupas satu satu. Bagi pekerja berat seperti tukang bangunan atau lainnya,tetap dianjurkan mengokohkan niat malam hari untuk melakukan puasa Ramadan. Jika siang hari ternyata tidak mampu, sesudah berusaha sedemikian rupa, maka boleh membatalkan puasa dengan menqadha'nya di luar bulan Ramadan. Ingat,bukan sengaja tidak berpuasa tanpa adanya upaya.
Bagi mereka yang tidak puasa karena udzur misalkan menstruasi , hamil, menyusui, sakit , musafir, orang yang usia lanjut, semua ada aturannya. Islam memberikan rambu2 secara jelas. Seorang muslim tinggal mematuhi aturan itu. Mereka boleh tidak berpuasa, tetapi tetap menghargai orang lain yang mayoritas berpuasa pada bulan Ramadan .
Intinya, jangan memberikan peluang bagi orang lain suudzan kepada kita dengan tingkah kita yang mengumbar makan di depan khalayak ramai. Jangan memberikan celah kepada orang lain hususnya bagi mereka yang imannya masih lemah, untuk ikutan tidak berpuasa. Jangan mengumbar dosa yang kita lakukan sementara jika kita lakukan secara tersembunyi, Allahpun akan menutup rahasia ini. Cari tempat yang bersifat private. bukankah urusan ibadah juga urusan pribadi hubungannya kita dengan sang Kholik?
Saling menghormati, menghargai akan tercipta hubungan persaudaraan yang harmonis. Berupaya semaksimal mungkin menjadi orang yang baik, taat aturan. Jangan biarkan diri ini rugi dua kali. Artinya di dunia sengsara banting tulang mengais rezeki, di akhirat disiksa karena pelanggaran yang kita lakukan. Naudzu billahiin dzalik.

yubs
BalasHapus