Seni Mengelola Emosi
Siang ini saya agak terkejut melihat ibu Entin menangis. Beberapa orang berkerumun mengucapkan kalimat yang bernada membujuk supaya berhenti menangis . Saya dengan kebiasaan tidak ingin banyak tahu urusan orang, cuek saja dan tidak mencoba menanyakan.
Apalagi sayup² kudengar pembicaraannya seputar salah paham antar teman. Intinya saya hanya tidak ingin terlibat jauh apalagi sok jadi pahlawan. Karena biasanya, ketika ada orang lain yang ikut terjun masuk dalam persoalan itu, maka seseorang akan semakin emosional . Istilahnya jadi kompor gitu. Akibatnya semakin panas. Dan ini terbukti . Bu Entin semakin merasa di atas angin.
Tidak lama mereka berkerumun, karena Bu Entin kemudian pamit pulang dengan alasan mau ngemall ingin menenangkan diri. Sementara di sisi lain ada bu Eno dengan memiliki kasus setingkat dan serupa, menanggapi kesalahpaman ini dengan reaksi datar. Dia tidak menangis apalagi sampai pulang. Sontak saja teman dekatnya bertanya kepada Bu Eno tentang sikapnya itu. " Mengapa bu Eno bisa memiliki sikap yang sedingin ini ? Mengapa tidak marah dengan kesalahpahaman itu? Sementara Bu Entin sampai menangis ? "
Mendengar pertanyaan itu dengan wajah lugu dan nada yang cuek bu Eno menjawab" Iya sih saya kecewa dengan keadaan ini. Tapi ya sudahlah gak pa² kalau memang keadaannya seperti itu. Anggap saja angin lewat.
" Duh makjleb hati ini mendengar jawaban bu Eno. Sungguh bijaksana sekali Bu Eno. Tidak reaktif emosional dalam menghadapi persoalan. Bahkan cenderung berdamai dengan keadaan. Tidak membesar²kan persoalan . Tapi sebaliknya, memperkecil sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang dianggap besar.
Dua sikap yang sangat bertolak belakang dalam menghadapi persoalan. Bu Entin emosional, sementara Bu Eno santai² saja. Tentu ini menjadi pembahasan menarik. Apalagi di bulan Ramadan. Bulan yang merupakan pembelajaran, menempa diri dalam menahan nafsu. Bukan sekedar menahan godaan makan minum, tapi juga godaan nafsu, termasuk marah. Bahkan Nabi Muhammad sendiri memberikan resep" jika ada seseorang datang kepadamu untuk mengajak bertengkar, katakan " Maaf, saya lagi puasa."
Emosi yang tidak terkendali saat berpuasa dan terus dibiarkan mengembara, akan menyebabkan energi terkuras , jantung bekerja lebih cepat sehingga menimbulkan setres. Hal ini berimbas kepada terganggunya psykis seseorang . Belum lagi akan berpengaruh terhadap kwalitas ibadah puasanya. Nah, tentu merugi bukan ???
Karenanya mengelola emosi memerlukan ilmu dan tehnik tersendiri. Secara teori mungkin gampang. Tapi prakteknya pasti membutuhkan
1. Introspeksi diri dan sadari bahwa semua orang pasti mengalami kesalahan termasuk diri kita sendiri.
2. Jangan terlalu mengharap sesuatu kepada manusia.Karena jika tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, akan muncul rasa kecewa.
3. Berlatih mengelola hati untuk sabar. walaupun pada awalnya berpura². Lambat laun akan menjadi sikap hidup.
4. Banyak berkumpul deng UNan orang soleh. Teman atau lingkungan memiliki peranan besar pada diri seseorang. Sering bersama komunitas orang² Soleh, yang nota bene mereka dekat dengan Allah, lambat laun akan berimbas pada diri seseorang. Hati akan menjadi tentram, tenang dan damai.
Intinya, bagi seseorang emosi dianggap sah² saja, jika dilakukan secara proporsional.Sebagai reaksi terhadap kekecewaan. Tapi jika sudah dilakukan sesering mungkin sehingga membentuk sebuah karakter, ini yang harus di waspadai dan wajib di hindari.

Komentar
Posting Komentar